Hartayang kita keluarkan untuk beribadah, ia akan kembali kepada kita sendiri, maka jangan sampai kita sayang dan khawatir akan kurangnya harta kita, karena Allah yang akan ganti harta tersebut.. 📚 Ust Dr. Musyaffa' Ad-Dariny, M.A., doktor ushul fiqih Univ Islam Madinah, pemateri di Radio Rodja dan Yufid TV Walaukebaikkan kita itu bermanfaat bagi orang lain, namun pada hakikatnya semua kebaikkan itu juga akan kembali kepada diri kita sendiri. Kita sendiri pula yang akan memetik semua manfaatnya. Karena pertama, setiap kebaikkan akan berbuah kebaikan sebagaimana firman Allah Swt : "Tidak ada balasan kebaikkan kecuali kebaikkan (pula)." QS. Sehinggakita harus yakin bahwa Allah akan selalu mengawasi kita di mana saja kita berada. (Luqman berkata) : "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui" (QS. Ya sebab Allah tidak membutuhkan amalan-amalan baik tersebut. Yang membutuhkannya adalah diri kita sendiri. Misal, kita berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, kebaikannya akan kembali kepada diri kita sendiri, keutamaan yang kita dapatkan akan kembali kepada diri kita, bukan kepada Allah apalagi sesama manusia. . JAKARTA - Syekh Abdullah Ju'aitsan dalam bukunya yang berjudul Meneladani Nabi dalam Sehari menuliskan, doa termasuk salah satu jenis kebaikan. Termasuk, mendoakan kebaikan bagi saudara kita Muhammad SAW bersabda, "Doa seorang Muslim untuk saudaranya dengan tanpa sepengetahuan saudaranya itu mustajab. Di atas kepala orang itu ada malaikat yang mencatatnya malakun muwakkal. Setiap kali orang itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, maka malaikat tersebut mengucapkan amin semoga Allah mengabulkan dan untukmu juga seperti itu." HR Muslim Menurut Syekh Abdullah, dengan mendoakan kebaikan bagi saudara kita, berarti kita telah berbuat baik kepada diri kita sendiri dan saudara kita. Karena doa kita bagi saudara kita merupakan salah satu sebab terkabulnya doa itu, saat malaikat mengamini dan berkata, "Amin dan untukmu juga seperti itu." Kita juga berbuat kebaikan kepada saudara kita ketika kita mendoakannya tanpa sepengetahuannya dan dikabulkan. Al Khathib Al Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad mengisahkan tentang riwayat hidup Abu Thayyib, bahwa dia senantiasan mendoakan saudara-saudaranya. Bahkan, dia mempunyai 300 nama saudaranya yang selalu dia doakan setiap malam satu per suatu malam, dia ketiduran dan lupa belum mendoakan mereka, maka dalam mimpinya dia didatangi seseorang yang berkata kepadanya, "Kamu belum menyalakan lampu-lampumu malam ini."Maka, dia bangun menyalakan lampunya dan mengeluarkan kertas serta mendoakan 300 orang saudaranya satu per satu lalu tidur Syekh Abdullah Ju'aitsan, dalam bukunya yang berjudul Meneladani Nabi dalam Sehari, sudah seharusnya kita mendoakan saudara-saudara kita, terlebih bagi siapapun yang mempunya hak atas diri kita. Misalnya, kedua orang tua dan orang yang memberikan nasihat, pembinaan, dakwah, atau taklim kepada kita."Tidak sepantasnya kita hanya mengambil manfaat ilmu dari para ulama dan para juru dakwah kita, lalu mereka tidak mendapatkan balasan apa pun selain ucapan terima kasih kita. Jangan begitu," tulis Syekh tulis Syekh Abdullah, kita mendoakan mereka tanpa sepengetahuan mereka, mmeberikan taufik kepada mereka, mengeluarkan mereka dari kesedihan, dan menolong mereka. "Demikian juga, kita hendaklah mendoakan Islam dan umat Islam," tulis Syekh Abdullah. COBALAH kita melempar bola pada dinding. Sekuat apa kita melempar, maka sekuat itu pula bola memantul ke arah kita. Lakukan berulang-ulang. Dan berulang-ulang pula bola itu memantul. Sadar ataupun tidak kehidupan yang kita jalani sekarang ini seperti kita melempar bola pada dinding. Sebesar apa kebaikan yang kita lakukan, sebesar itu juga kebaikan itu kembali ke kita. Sebesar apa keburukan yang kita buat maka sebesar itu juga keburukan itu kembali pada kita. Kita bisa berjalan, lari dan melompat itu bukanlah serta merta keahlian yang diperoleh dalam satu hari. Tapi minggu, bulan dan tahun yang kita lewatkan semasa kecilah yang membuat kita dengan mudah sekarang melakukannya. Orang tua kita mengajarkanya lagi dan lagi. Meski kita terjatuh sekalipun tetap kita diajarkannya untuk berdiri dan berjalan. Tidak perduli sebesar apa luka yang kita peroleh ketika belajar berdiri dan berjalan orang tua kita akan terus mengajarkannya lagi hingga kita bisa seperti saat ini. Berdiri, berjalan dan berlari dengan mudahnya. Kebaikan yang diajarkan orang tua kita adalah kebaikan yang pernah diajarkan kakek dan nenek kita pada orang tua kita. Selanjutnya seperti itu dan kebaikan itu berulang turun temurun. Seberapa baik kita merawat dan memperlakukan anak kita, maka sebaik itu pula mereka akan memperlakukan kita di hari tua nanti. Saya sadar betul pencapaian yang saya capai saat ini adalah hasil dari fikiran, keringat dan usaha yang telah saya keluarkan. Seperti halnya sekuat apa saya melempar bola ke dinding sekuat itu pula bola memantul. Sekuat usaha yang telah saya lakukan maka seperti itu pula hasil yang saya dapatkan. Tentunya ini atas kehendak Allah SWT semuanya. Sadarkah kita jika di sekeliling kita berbuat baik pada kita karena kita berbuat baik pada mereka. Begitupun mereka akan memperlakukan kita dengan tidak baik jika kita memperlakukan mereka dengan tidak baik. Jangan harap Allah SWT akan banyak memberi kemudahan jika kita sering mempersulit orang. Teruslah berbuat baik niscaya orang jahatpun akan berterimakasih. Teruslah memberi niscaya orang kikir pun akan berterimakasih. [] BERTAKWALAH kepada Allah wahai manusia. Sucikanlah dirimu dengan melakukan ketaatan. Janganlah kalian mengotorinya dengan keburukan dan kesesatan. Allah berfirman, “Dan jiwa serta penyempurnaannya ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” Asy-Sayms 7-10 Sesungguhnya apapun yang kita lakukan di bumi ini, diperuntukkan bagi diri sendiri. Engkau tidak akan diberikan balasan, melainkan atas dasar amal perbuatanmu sendiri. Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang mengerjakan amal yang shalih maka pahalanya untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dosanya untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidakah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya,” Fushshilat 46. Sesungguhnya apapun yang kita lakuakn di dunia ini akan kembali kepada diri kita sendiri. Ketika kita melakukan hal yang buruk, maka sudah dapat dipastikan bahwa keburukan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Sebaliknya, jika kita melakukan hal-hal yang baik, maka kebaikan itu akan berimbas kepada diri kita sendiri pula. Apa-apa yang kita lakukan di dunia ini kitalah yang akan merasakannya. Maka perhatikanlah apa yang telah kita buat hari ini. Karena setiap apa yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. [] Sumber Himpunan Khotbah Jum’at Lengkap/Dr. Shalih Al-Fauzan/Ummul Qura Oleh NUR FARIDAHOLEH NUR FARIDAH Manusia bukan makhluk super dan sempurna yang bisa segala-galanya. Kesempurnaan hanya milik Allah. Sering kali kita tidak tahu apa yang ada di balik peristiwa yang kita alami dalam kehidupan, terutama yang kita anggap atau rasa buruk dan menyakitkan. Allah menegaskan bahwa segala yang terjadi pada diri manusia sesungguhnya adalah ulah manusia itu sendiri. Allah berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” QS asy-Syura [42] 30. Allah bukan Tuhan yang jahat dan tidak akan menjahati atau menzalimi manusia. Manusia itu sendiri yang menjahati atau menzalimi diri sendiri. Hal ini ditegaskan Allah, “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri.” QS Yunus [10] 44. Oleh karena itu, ketika kita ditimpa hal-hal yang kita anggap buruk, kita tak perlu langsung menyalahkan siapa pun atau hal-hal di luar kita. Kita mesti segera melihat ke dalam diri kita sendiri, mengingat-ingat apa yang telah kita lakukan di waktu sebelumnya. Barangkali ada keburukan yang kita lakukan, baik kita sadari maupun tidak. Bisa jadi apa yang kita alami saat ini adalah imbas atau hukuman balik sesuai dengan sunatullah yang kita terima. Allah berfirman, “Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri.” QS al-Isra’ [17] 7. Artinya, kebaikan yang kita lakukan efek baiknya akan kembali kepada kita. Begitu pun sebaliknya, keburukan yang kita lakukan efek buruknya juga akan kembali kepada kita sendiri. Di ayat lain, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” QS ar-Rahman [55] 60. Dalam kitab Tafsir al-Jalalain karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli disebutkan, Allah menegaskan bahwa jika kita berbuat baik dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah, berarti kita telah berbuat baik bagi diri kalian sendiri karena sesungguhnya pahala kebaikan itu untuk diri kita sendiri. Sebaliknya, jika kita berbuat jahat dengan menimbulkan kerusakan, kejahatan itu akan berbalik kepada diri kita sendiri sebagai pembalasan atas kejahatan kita sebelumnya. Kebaikan hanya bisa didapatkan dengan kebaikan. Makin banyak kita berbuat baik, makin banyak pula kebaikan yang kita dapatkan. Begitulah sunatullah atau hukum yang telah ditetapkan Allah bagi makhluk-Nya. Kebaikan yang balasannya tak hanya di dunia secara langsung, yang bisa jadi dalam bentuk lain, tetapi juga tidak langsung, yakni disimpan atau menjadi investasi di akhirat yang jauh lebih banyak dan besar karena Allah Maha Pemurah dan Mahakaya. Oleh karena itu, Rasulullah melarang kita dari meremehkan kebaikan, sekecil apa pun itu, atau sesederhana apa pun bentuknya, “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum. Amal tersebut adalah bagian dari kebajikan.” HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Kita tidak akan tahu balasan kebaikan apa yang akan kita dapatkan ketika kita berbuat baik. Kita hanya perlu memperbanyaknya. Wallahu a’lam.

kebaikan akan kembali kepada kita